Tampilkan postingan dengan label batasana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label batasana. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 September 2026

Ba Ta Tsa Na

 

Kata Air

Air adalah sebuat kata yang digunakan untuk menyebutkan zat yang berbentuk cair, tidak berbau, tidak berwarna, tidak berasa dan berfungsi sebagai pelarut zat lain bagi organisme dan dibutuhkan oleh mahluk hidup hewan, tumbuhan dan manusia. Kata “air” adalah tafsir paling sederhana dari zat cair yang dimaksud tersebut, dan kata “air” hanya tepat dan presisi untuk menafsirkan zat cair tersebut jika digunakan dalam Bahasa Indonesia atau induk dari Bahasa Indonesia. Karena kita tahu bahwa Bahasa Indonesia adalah bahasa baru yang diturunkan dari berbagai bahasa induk yang hidup dan dituturkan oleh seluruh suku yang ada di Indonesia terutama bahasa melayu.

“Air” ketika kita mendengar pengucapkan kata itu, kita yang menuturkan Bahasa Indonesia, secara otomatis akan mengerti maksud dari kata tersebut diperuntukan untuk menyebutkan zat cair yang tidak berbau, dan biasa kita gunakan untuk membersihkan diri atau kita gunakan untuk minum. Tetapi zat cair yang sama, akan disebut berbeda oleh bangsa lain yang menuturkan bahasa yang bukan Bahasa Indonesia. Orang Inggris menyebutnya dengan “water”,  orang Arab menyebutnya “ma’” , orang Cina menyebutnya “shui”, orang Jepang menyebutnya “mizu”, orang Portugis menyebutnya “agua”, dan masih banyak lagi.

Dari semua kata yang digunakan untuk menyebutkan benda cair itu, “air, water, ma’, shui, mizu, agua, aqua, nero, maji, jala, biyo, banyu, cai, danum, uwe, wai, H2O” dan lain sebagainya kata yang digunakan untuk menyebut zat cair tidak berasa, tidak berbau, berfungsi sebagai pelarut, dan kita minum. Kata manakah yang paling benar, paling presisi, paling tepat, paling akurat, paling pas untuk sebutan zat cair tersebut? Tidak ada! karena kata-kata itu semua adalah tafsir dari penyebutan zat tersebut. Karena semua yang terlihat jika ingin didengar maka diperlukan tafsir, semua yang terasa jika ingin didengar juga butuh tafsir, begitu pula sebaliknya.

Hal lain yang tersirat dari kata air adalah, tidak ada satupun manusia, atau kumpulan manusia (bangsa), atau ras manusia melebihi manusia lain, bangsa lain, atau ras lain. Karena kebenaran sejati adalah ia yang tak terukur, tak terkira, tak terbatas, dan tak hingga. Karena kebenaran di sisi mahluk (ciptaan) adalah terbatas, terbatas jangkauannya, terbatas waktunya, terbatas ruangnya, terbatas rasanya, terbatas suaranya. Maka apapun yang saya tulis di buku ini, atau tulisan saya sebelumnya, atau tulisan saya setelah buku ini tidaklah mutlak benar! Oleh karena timbang-timbanglah lagi apa yang kamu dapatkan di sini, banding-bandingkan lagi semuanya dengan pengetahuanmu sebelumnya.

Jika apa yang ada di sini, cukup logis, bisa diterima akal, dan bisa membuat kamu lebih baik dalam bersikap, lebih baik dalam bernalar, lebih baik dalam mengambil keputusan, maka ambillah itu dan peganglah itu. Tapi perlu diingat bahwa kebenaran mutlak tetaplah ia yang tak terukur, tak terkira, tak hingga dan tak terbatas. Dan apa yang ada di sini hanya benar terbatas lingkupnya, terbatas ruang, terbatas waktu dan tidaklah mengganti, atau menyalahkan nilai, atau kebenaran sebelumnya. Tidak pula segala sesuatu sebelum ini salah, ini hanya tafsir atau cara pandang dari sudut lain. Ini selayaknya H2O yang tidak menggantikan kata sebelumnya tidak pula menyalahkan penyebutan sebelum, hanya cara pandang lain dikarenakan cara atau metode mengenali benda cair itu berbeda dengan cara sebelumnya yang sudah ada.

Saya ini seperti seniman seni rupa yang mendapati banyak dahan dan ranting kering berserakan lalu mengumpulkannya dan menyusunnya sehingga menjadi bentuk atau rupa seperti sesuatu dalam pandangan kita. Orang lain atau seniman lain bisa saja membuat bentuk lain, rupa lain. Dan dimata pengrajin kayu, dahan dan ranting kering bisa dibuat sesuatu yang memiliki fungsi lain, dan ditangan pengumpul kayu bakar, dahan dan rating kering dibakar hanya akan menjadi abu tetapi dengannya akan ada makanan yang dimasak dan menguatkan dia untuk melanjutkan kehidupannya.

Apabila tulisan ini sampai padamu, bebas bagimu untuk mengambilnya dan menjadikan hiasan dalam rumah, bebas pula kamu meninggalkannya begitu saja, bebas pulang membongkar dan membentuknya ulang, bebas pula kamu membakar atau mencampakkannya. Hanya sebuah harapan yang menyertai tulisan ini yaitu membuat kita menjadi lebih baik (berproses memperbaiki diri) dan saya tidak akan pernah menarik atau membatalkan harapan itu.

 

Penulis Raden Kuswanto   2026


Mengapa?

Mengapa ba ta tsa(sa) na? Mengapa huruf hijaiyah? Ada banyak ragam tulisan di dunia ini, ada banyak aksara di dunia ini. Ada “alphabet”, “hijaiyah (arab)”, “hanzi”, “kanji”, “Devanagari”, “hanacaraka”, “ibrani”, “hiroglif”, “hiragana /katakana”, “Lontara”, “ka ga nga”, “kawi”, “pahlawa”, “aksara paku”, dan lain sebagainya, tetapi bagi saya, ada yang menarik di aksara hijaiyah. Dari sekian banyak aksara yang saya tahu atau sekedar tahu, dari beberapa jenis aksara yang saya kenal, ada sesuatu yang menarik pada beberapa huruf hijaiyah. Saya merasa ada pesan tersirat di sana. Ada sesuatu yang disampaikan untuk dibaca, dimengerti dan dipahami. Apa yang saya baca, saya banding-bandingkan dengan sikap ceroboh, dan kesombongan saya di masa yang lalu.

Saya berusaha untuk memperbaiki diri untuk saat ini dan kedepannya. Dan aku tulis ini, mungkin masih ada aku-aku yang lain, yang terlahir, dan masih menggegam kesombongan dan sering melakukan kecerobohan-kecerobohan dalam majelis ilmu, mencari ilmu, ataupun terjebak dalam lingkungan ilmu dan keilmuan. Mungkin masih ada aku-aku yang lain, yang hidup dengan menggigit keangkuhan, berjubah kesombongan, bertameng kedigdayaan, dan memegang amarah, sehingga tidak sempat menyadari telah terlempar dikehidupan fana dunia. Hidup terseret derasnya arus dunia, tenggelam dalam kemegahan dunia, terkubur lumpur nafsu duniawi sehingga tidak sempat berfikir dan merenungi bahwa hidup ini hanyalah temuan, terperangkap pada raga yang cuma dibekali perangkat indra dengan kemampuan terbatas.

Kita hanyalah penemu bukan pemilik, maka janganlah mengaku-aku barang temuan, mengklaim-klaim kepemilikkan. Merendahlah kamu di majelis ilmu, tahanlah dirimu, dengarkan dengan seksama, perhatikan detil, pikirkan, resapi dan renungkanlah semuanya.

Hal yang menarik itu adalah bentuk gambar atau huruf hijaiyah yang menyerupai mangkuk / ember atau wadah penampungan. Dimana bentuk ini tidak saya kenal atau saya temui di bentuk-bentuk huruf atau ragam aksara lainnya yang saya kenal, yang saya tahu, atau yang dikenalkan atau diajarakan oleh guru-guru saya atau diberi tahu contoh ragam penulisan yang pernah ada di batu-batu peninggalan peradaban terdahulu (prasasti).

Hal yang menarik lainnya adalah bahwa tidak ada gambar atau bentuk huruf yang menyerupai wadah itu digambarkan atau dituliskan “kosong”. Kondisi tersebut seperti menggeletik akal saya, merangsang saya bertanya “Mengapa?”, adakah pesan yang perlu diuraikan di sana yang tidak hanya sekedar bunyi atau lafal huruf saja. Jika ada pesan tersirat seperti apa itu? Ketika saya mengerti cara pelafalan huruf-huruf tersebut, hal tersebut tidak membuat saya puas, tidak bisa membuat saya cukup hanya sekedar bisa melafalkan bunyinya, bahkan perubahan bentuknya di awal, di tengah ataupun di akhir kata belum cukup untuk menghetikan rasa penasaran saya.

Bahkan setelah saya tahu bahwa, huruf-huruf itu awalnya kosong semua, tidak bisa dibedakan satu dengan yang lainnya ketika membentuk satu kata atau kalimat, sedangkan untuk membunyikan atau melafalkannya saat itu diperlukan hafalan, atau kewajaran atau kebiasaannya kata atau kalimat itu. Bentuk sebelumnya tidak bisa dibedakan antara ba, ta, tsa, nun, sin, ataupun syin.untuk bisa membacanya waktu itu berdasarkan hafalan dan makna atau maksud dari kalimat yang dituliskan itu.

Kemudian ada beberapa orang atau ilmuan yang mencoba untuk menguraikan dengan menambahkan pembeda untuk bisa membedakan bentuk huruf satu dengan yang lain, supaya jelas pelafalannya. Pengetahuan baru itu juga masih saja menggelitik saya, mengapa mereka tidak menyisakan satu bentuk huruf yang kosong? Mengapa, mengapa, dan mengapa? Saya sudah mencoba mencari jawaban, membuka semua literasi yang bisa saya akses dan temukan. Menyelam dalam ke akses informasi dunia. (internet).

Semakin dalam saya menyelam tidak ada jawaban yang membuat saya puas, justru saya banyak menemui godaan-godaan yang ditawarkan ke saya, diiming-imingi ke saya. “mungkin kamu butuh ini, mungkin kamu suka ini, mungkin ini yang kamu perlukan, ini kayaknya cocok buatkamu, ini sangat kamu butuhkan” tentu saja mereka tidak secara fulgar mengatakan demikian tetapi cara kerja algoritma mereka terbaca seperti itu. Aku tergoda? Ah tentu saja, hal-hal seperti itu tidak hanya menarik saya, tapi menenggelamkan saya, mebenamkan saya sehingga saya lupa akan pencarian awal saya. Dan ketika sudah tenggelam dan terbenam, rasanya tangan dan kaki ini sangat berat, hal-hal itu seperti lem yang sangat kuat, sulit bagi saya lepas, bahkan untuk menulis ini saya tidak hanya butuh hari, tapi saya melewatkan minggu, bulan bahkan tahun. Saya terlena, tenggelam dalam, terkubur dan terbenam. Rasa-rasanya seperti itu, kenyataannya dan yang orang lihat saya biasa saja, bebas-bebas saja. Aneh! Iya.

Baiklah, mulai dari sini akan aku susun kepingingan-kepingan itu menjadi satu, akan aku hubungkan gampe-gampe (gambar pecah-pecah) itu menjadi satu bingkai sehingga menjadi sebuah ilustrasi yang menyerupai sesuatu atau menggambarkan sesuatu. Aku mencoba melukisan sesuatu dengannya, tapi aku bukanlah seniman seni rupa karena aku mengilustrasikan itu semua dengan huruf, kata, dan kalimat. Lebih cocok aku disebut penulis, tapi aku terputus literasi atau tidak menemukan literasi yang cocok, jadi jangan tanyakan daftar pustaka kepadaku, jangan pula menanyakan dasar atau rujukan darimana saya merumuskan itu, Karena saya tidak menemukan atau terputus dari rujukan atau literasi yang telah ada.

Saya bukanlah akademisi, karena saya tidak pernah mampu menyelesaikan Pendidikan diploma saya ataupun menyelesaikan Strata / Sarjana. Saya juga bukan seorang agamawan, yang menamatkan Pendidikan-pendidikan agama di pesantren, dengan mampu membaca, mengerti, menerjemahkan kitab-kitab kuning. Saya hanya seorang biasa yang hanya mengaji (belajar membaca) Al-quran pada ustazdah hanya sampai juzz 6 saja, itupun dengan pemakluman dari ustazdah saya karena saya kesulitan untuk melafalkan huruf-huruf hijaiyah sesuai dengan mahraj atau tempat keluarnya suara dari sebuah huruf.

Saya hanyalah seorang manusia biasa saja, tanpa gelar, tanpa sebutan. Saya tidak pernah bisa berhenti untuk bertanya dan berfikir, selalu saja ada pertanyaan-pertanyaan aneh. Dan jawaban yang ada saat ini, masih saya rasa belum cocok, ataupun saya tidak puas dengan jawaban singkat. Pertanyaan-pertanyaan itu sering kali tidak menemukan jawaban, tidak ada literasi yang menerangkan itu *(sebatas yang saya bisa akses, atau mungkin saja saya terputus dari literasi). Maka saya putuskan untuk berhenti mencari dan menggali literasi. Jika jawaban tidak saya temukan di luar sana, maka bagaimana jika saya buat saja sendiri.

Saya seperti punya rumah dengan dinding kosong, saya tidak mampu membeli hiasan untuknya maka akan saya buat sendiri, saya kumpulkan ranting-ranting kering, daun-daun kering, saya rangkai dan satukan untuk menjadi hiasan bagi dinding saja. “Aku sebut diriku seniman seni rupa yang menggambar dengan huruf, kata, dan kalimat”. Itulah yang menjadikan semua itu mengapa?

Ba (ب)

Huruf Ba ditulis atau digambarkan seperti mangkuk dengan isi yang ada dibawahnya. Ini adalah sikap atau ahlak yang sebaiknya kita lakukan ketika kita ada di dalam majelis ilmu. Yaitu sikap menyembunyikan pengetahuan yang sudah kita miliki dan menyiapkan diri untuk menerima ilmu dengan cara mengosongkan ruang penampungan atau penyimpanan ilmu. Pengetahuan yang sudah kita miliki cukup disembunyikan, tidak ditampakan, tidak pula dibuang atau dihilangkan. Nanti di bab selanjutnya “ta” kita akan tahu apa kegunaan dari pengetahuan yang sudah kita miliki saat ini. Apa saja yang perlu kita siapkan dan bagaimana cara kita menyiapkan diri? Berikut ini adalah beberapa hal yang sebaiknya kita lakukan sebelum atau selama berada di majelis ilmu.

1.     Ilmu dan pengetahuan

Ketika kita menghadiri majelis ilmu, kita datang dengan sejumlah pengetahuan dasar. Kita tahu nama-nama benda “kursi, meja, gedung, buku, balpoin, penghapus, apel, jeruk, baju, topi, celana”, kita tahu sejumlah atribut yang menyusun identitas kita “nama, alamat, mata, hidung, mulut, jenis kelamin, ayah, ibu”, kita bisa menyebutkan sejumlah kegiatan dasar kita “duduk, berdiri, berlari, diam, mendengar, melihat, meraba, merasa, tidur, makan, minum, dan lainnya”, dan banyak lagi sebutan atau nama tentang suatu obyek, atau nama-nama sifat. Kita juga tahu hitung-hitungan dasar, satuan-satuan, pengukuran-pengukuran. Semua hal yang kita tahu, nama-nama, sebutan-sebutan, sifat-sifat yang melekat, semua itu adalah pengetahuan.

Kemudian, selain pengetahuan dasar, kita juga mengetahui berbagai fungsi atau kegunaan dari berbagai benda-benda disekitar kita. Kita juga mengerti keterkaitan antara satu benda dengan benda lain. Kita juga mengetahui pengaruh benda satu dengan benda lainnya jika dipertemukan, atau dicampurkan. Pengetahuan akan sebab-akibat, saling keterkaitkan satu dengan yang lainnya, hubungan pengaruh dan mempengaruhi. Pengetahuan tentang ada sebuah sistem di alam yang saling keterkaitan, ada aturan-aturan tertentu di alam, semua itu adalah ilmu. Gabungan keduanya sering kita kenal sebagai ilmu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan yang kita miliki, yang kita ketahui atau yang kita kuasai, untuk sementara harus kita sembunyikan ketika kita menghadiri majelis ilmu. Hal ini kita lakukan dalam rangka mempersiapkan diri untuk menampung ilmu baru, apapun itu yang disampaikan oleh sang penyaji. Dengan menyembunyikan ilmu pengetahuan yang kita kuasai, akan membantu kita untuk lebih fokus dalam mendengarkan orang yang menyajikan atau mengajarkan ilmu. Dengan menyembunyikan ilmu pengetahuan, kita akan lebih memperhatikan apa yang disampaikan oleh guru atau orang yang mempresentasikan ilmu. Ketika kita bisa memperhatikan lebih baik dan mengdengarkan dengan seksama, kita akan menyerap ilmu lebih baik dari yang sebelumnya.

Ilmu Pengetahuan yang kita kuasai untuk sementara kita sembunyikan dulu selayaknya huruf ba. Kita kemudian mengambil sikap terbuka menyiapkan wadah kosong untuk menerima ilmu dari Sang Guru atau Sang Penyaji, siapapun itu, apapun gelar, berapapun umurnya, karena kita belajar dari siapaun dan dari apapun itu. Dengan meletakan pengetahuan di bawah, kita telah berada dalam kondisi siap menampung semua ilmu dan pengetahuan apapun dan dari siapapun.

2.     Harta benda

Hal yang selanjutnya perlu kita sembunyikan adalah harta benda yang kita miliki. Harta benda yang dimaksud adalah harta benda yang tidak ada kaitannya sebagai alat bantu, atau perangkat yang digunakan untuk menerima, mencatat, merekam, atau mendokumentasikan apa yang disampaikan oleh guru ataupun penyaji. Harta benda apapun itu yang biasa digunakan untuk menunjukan gaya, gengsi, kemewahan, kekayaan, prestis, dan lain sebagainya.

Semua barang-barang yang bisa mengalihkan kita untuk tidak bisa fokus dalam menerima pengajaran sebaiknya disembunyikan dulu atau tidak dibawa ketika menghadiri majelis ilmu, kuliah atau kajian. Karena benda-benda atau barang-barang tersebut akan membuat kita merasa penting, butuh diperhatikan atau ditandai oleh orang-orang lain yang hadir di majelis ilmu yang sama. Sebab benda-benda itu pula bisa mengalihkan fokus kita, yang seharusnya kita gunakan untuk menerima pengajaran menjadi sibuk mencari perhatian dari orang lain, secara diam-diam.

Maka ada baiknya harta kekayaan ditinggalkan di rumah atau tidak perlu dibawa ketika menghadiri majelis ilmu. Karena harta kekayaan punya potensi untuk menjadi tutup bagi diri kita, sehingga kita tidak mampu menerima atau menampung ilmu dari Sang Penyaji.

3.     Jabatan atau kekuasaan

Jabatan dan kekuasaan biasanya melekat seragam dinas / kedinasan dengan segela atribut yang menyertainya. Akan tetapi ketika hadir dalam mejelis ilmu, yang sebaiknya ditinggal, atau diletakkan terlebih dahulu bukan hanya seragam dan semua atribut yang menempel padanya. Jabatan dan kekuasaan yang rasa memilikinya, juga sebaiknya diletakkan atau disembunyikan dulu.

Jabatan dan kekuasaan janganlah dikenakan atau lebih baik disembunyikan dulu, tidak hanya pada simbol-simbolnya yang berbentuk seragam dan atributnya tetapi juga pada rasa bahwa kita memiliki jabatan dan kekuasaan tersebut. Karena dengan menyebunyikannya kita akan lebih aman dari penyakit ingin selalu diperhatikan, dimengerti, dimaklumi, dibenarkan, disanjung, dihormati, dan lain sebagainya.

Dengan menyembunyikan atau menanggalkan jabatan dan kekuasaan akan lebih mudah bagi kita untuk membuka diri dan bersiap untuk menerima ilmu dari penyaji atau dari siapapun yang mempresentasikan dirinya. Karena ilmu dan pengetahuan tidak hanya disajikan dalam bentuk tutur dan kata, tetapi kadang juga ditampilkan dalam gerak dan laku dari Si Pengandungnya.

Itulah sikap atau ahlak yang tersirat dari penggambaran huruf ba (ب) dan terbaca seperti itu bagi saya. Penggambaran huruf ba menyiratkan sikap bahwa kita perlu menyembunyikan ilmu pengetahuan yang kita miliki ketika hadir dalam mejelis ilmu. Kemudian kita bersiap diri, dan terbuka akan cara padang lain yang mungkin saja berbeda atau bahkan bertolak belakang dengan semua kaidah dan ilmu pengetahuan yang kita miliki saat ini. Bisa jadi sesuatu yang terasa berbeda atau bertolak belakang, hal itu karena kita belum menguasai cara atau metode yang digunakan atau dikuasai oleh penyaji (guru). Rasa yang berbeda bisa jadi karena masih sempitnya keilmuan yang ada pada kita, atau karena batasan-batasan yang kita tetapkan dalam memandang atau memaknai sesuatu.

Ingat kita hanya perlu menyembunyikan saja atau cukup menanggalkannya sementara saja selama ada di manjelis ilmu. Dan jika ada guru atau orang yang kita berguru kepadanya, kemudian Ia meminta kita untuk meninggalkannya semuanya, mengosongkan pikiran dan lain sebagainya, bersikaplah WASPADA karena apa yang dia ajarakan, kita diminta untuk membenarkan atau menganggap kebenaran tanpa kita diijinkan untuk menimbang-nimbang lagi. Karena semua pembanding yaitu ilmu dan pengetahuan kita diminta untuk dibuang. Bisa jadi dia menginginkan kita menjadi budaknya, yang menuruti semua kemauannya, dan kita tidak bisa berdaulat atas diri sendiri. Dan rasanya sudah cukup, sudah saatnya kita membaca pesan tersirat dari penggambaran huruf ta (ت).

Ta (ت)

Sebuah wadah dengan dua isi adalah penggambaran dari huruf ta. Jika huruf ba menyiratkan pesan tentang sikap yang perlu kita lakukan sebelum dan selama berada di majelis ilmu, maka huruf ta memberikan pesan yang perlu dilakukan setelah datang dari majelis ilmu. Sikap tersebut adalah menimbang-nimbang semua materi atau pelajaran yang diajarkan guru atau penyaji, di majelis ilmu yang baru saja kita datangi. Istilah orang jawa menyebutnya angen-angen.

Sekarang setelah kita pulang dari majelis ilmu, kita telah mempunyai dua isi yang kita letakan dalam wadah kita (penggambaran huruf ta). Dua isi tersebut yang pertama semua materi ilmu yang baru saja kita dapat dari majelis ilmu, ilmu dan pengetahuan yang diajarkan atau disampaikan oleh guru / penyaji / nara sumber. Kedua adalah ilmu dan pengetahuan yang sebelumnya sudah kita kuasai, kita mengerti, dan kita yakini akan kaidah dan manfaatnya. Pengetahuan kita tentang nama-nama benda, pengetahuan kita tentang sifat-sifat benda, pengetahuan kita tentang prilaku, atau penyebutan tentang cara kerja, pengetahuan kita tentang waktu, pengetahuan kita tentang rasa, pengetahuan kita tentang pendengaran, aroma, lingkungan sekitar dan lain sebagainya tentang semua pengetahuan yang telah kita kuasai. Ada pula ilmu yang kita pahami tentang sesuatu obyek, ilmu tentang pengaruh benda satu dengan benda yang lain, ilmu tentang lingkungan, ilmu tentang sifat-sifat benda, ilmu ukur, ilmu hitung, dan semua ilmu yang kita kuasai saat ini.

Ilmu pengetahuan yang telah kita kuasi itu, kita gunakan untuk menimbang-nimbang ilmu yang baru saja kita dapat dari majelis ilmu. Mengapa kita perlu menimbang ulang? Karena dalam majelis ilmu, batas-batasan yang ada dalam hidup dan berkehidupan, norma-norma yang ada, aturan-aturan hidup yang selama ini diterapkan di masyarakat, itu boleh dilampui, boleh dilewati, boleh dilanggar dalam kadar tertentu dengan tujuan untuk dikaji, untuk diuji, untuk dicari nilai baru, untuk diukur adakah batas baru, atau untuk diketahui adakah sebab yang belum diidentifikasi di sana. Oleh karena itu batas-batasan tersebut boleh dilampui. Tentu saja seorang penyaji yang baik, akan mempertimbangkan siapa pendengar yang sedang mengikuti kajian. Apakah kajiannya itu untuk umum, atau untuk kalangan khusus yang disyaratkan telah menguasai dasar-dasar keilmuan tertentu yang menunjang materi yang disajikan.

Contoh sederhana saja, Feses atau kotoran manusia “tai” adalah barang yang jorok, tidak boleh diletakkan sembarang, harus dibuang dikloset, atau harus segera dibersihkan, karena baunya, karena kotornya, karena joroknya, itu aturan yang ada dan diterapkan dan diajarkan kepada kita semua. Akan tetapi ketika berada di majelis ilmu kedokteran yang meneliti tentang penyakit-penyakit pencernaan, maka seorang dosen kedokteran boleh membawa sampel feses untuk diteliti. Tentu saja sudah ada prosedur-prosedur yang perlu dipatuhi dalam menyiapkan sampel, membawa sampel, memperlakukan sampel, dan juga perlengkapan apa saja yang harus dikenakan oleh mahasiswa kedokteran yang hadir dalam majelis tersebut. Tidak hanya feses saja, ada urin, dahak, bangkai dan lain sebagainya boleh diambil sampel dan diteliti. Bagaimana dengan ilmu bahasa, fisika, kimia, biologi, dan disiplin ilmu lainnya? Boleh! Sampel yang dianggap kotor, jorok, tabu, berbahaya, beracun, berradioaktif, boleh dibawa dan ditampilkan di majelis ilmu untuk diteliti dan dicari sumber masalahnya. Tentu saja sampelnya diambil secukupnya saja, tidak berlebihan dan ada prosedur-prosedur yang harus dilakukan dalam menyiapkan sampel.

Di dalam majelis ilmu, ketabuan, larangan itu boleh dilewati dalam kadar tertentu dan dalam batasan tertentu. Kadar dan batasnya secukupnya saja, dan diperlukan tahapan-tahapan dalam mengambil sampel. Contoh lagi, untuk mengetahui kandungan gizi dalam daun kelor, maka kita akan mengambil beberapa sampel daun kelor. Dari beberapa sampel itu, kita perlakukan berbeda-beda, ada yang kita bakar, ada yang kita tumbuk, ada yang kita rebus, ada yang kita campur dengan bahan lain, semua proses kita amati, kita ukur waktunya, dilihat reaksinya setelah beberapa waktu. Akhir dari pencarian itu adalah simpulan-simpulan tentang kandungan dari daun kelor, kemudian dipadukan dengan keilmuan dari fungsi kandungan-kandungan tersebut. Setelah kita tahu tentang kandungan dan fungsi daun kelor, maka kita menentukan sikap (ada adap dan ada akhlak) pada daun kelor. Contohnya, setelah pencarian tersebut kita tahu ada zat yang berpotensi sebagai racun ketika daun kelor direbus, kemudian didiamkan dan direbus lagi. Maka kita buat aturan batasan bahwa sebaiknya daun kelor hanya direbus sekali dan dihabiskan segera, atau setelah beberapa menit perebusan ada zat yang membantu detoksin menguap atau hilang maka sikap kita adalah membatasi lama perebusan dari daun kelor.

“Walaupun boleh melampaui batasan-batasan aturan, atau norma tertentu, tetap saja tidak semua aturan, tidak semua batasan, tidak semua norma boleh dilanggar, dilampaui, diuji di majelis ilmu. Tetap saja ada sejumlah aturan / norma yang cukup diterima saja tanpa periu kita tahu alasan dibalik aturan itu.”

Oleh karena keleluasaannya yang ada di majelis ilmu, begitu terbukanya dalam menampilkan sampel dari sebuah obyek, begitu bebas dalam menyampaikan, menelaah, sebuah pendapat atau sudut pandang. Maka, semua yang kita dapat dari majelis ilmu sebaiknya ditimbang-timbang dulu, dibanding-bandingkan dulu, dengan semua ilmu pengetahuan yang telah kita miliki sebelum. Perlunya kita saring dulu, apa yang kita dapat dalam majelis ilmu sebelum kita terima sebagai sesuatu ilmu / kaidah baru. Ilmu pengetahuan yang tadi kita sembunyiknan berfungsi sebagai pembanding, pemberat, atau penyaring ilmu yang baru kita dapatkan di majelis ilmu.

“Apapun yang kita dapat dalam majelis ilmu, jangan pernah langsung diterima begitu saja sebelum kita timbang-timbang nilainya.”

“Apapun materi yang kita dapat di majelis ilmu, jangan pernah diterima sepenuhnya sebelum diamati dengan seksama, didengar ulang lebih dalam, dicium, dirasa, dan diraba, apakah itu cukup logis dan bisa diterima secara akal!”

Semua hal yang kita dapat dalam majelis ilmu, semua materi yang disampaikan dalam majelis ilmu, semua ilmu pengetahuan yang diajarkan dalam majelis ilmu, sekalipun itu adalah hal yang MUTLAK BENAR, Kita sebagai pendengar, Kita sebagai sasaran obyek penyampaian hal tersebut, Kita diberikan kebebasan untuk menolak ataupun menerima itu. Kita boleh menerima seluruhnya, boleh menerima sebagian, boleh pula menolak seluruhnya setelah menimbang-nimbang, setelah membanding-bandingkan, setelah mengukur-ukurnya apakah yang disajikan dalam majelis ilmu tersebut cukup logis untuk diterima akal? Apakah kaidah-kaidah dalam mengambil simpulan-simpulan bisa dinalar? Apakah pernyataan-pernyataan yang diambil ada analogi yang pas?

Apapun keputusan yang kita ambil setelah datang dari majelis ilmu, Kita diberi kedaulatan untuk menentukannya. Mengambil semua ajaran yang diajarkan, dan bertanggung jawab penuh terhadap akibat yang ditimbulkannya dikemudian hari. Mengambil hanya sebagian saja dan menolak sebagian yang lainnya. Menolak seluruhnya karena tidak ada kesesuaian nilai-nilai yang ada dengan ilmu pengetahuan yang telah kita kuasai sebelumnya. Semua itu kita lakukan dengan kesadaran penuh dan tanggung jawab atas semua dampak yang mungkin akan terjadi, dan tidak menuntut balas jika ada akibat buruk yang ditimbulkannya.

Menimbang-nimbang, membanding-bandingkan, atau mengukur nilai-nilai dari ilmu yang kita dapat dalam majelis ilmu dengan ilmu pengetahuan yang sebelum telah kita kuasai dan kita terima, adalah pesan yang tersirat dari penggambaran huruf ta (ت), selanjutnya mari kita baca pesan tersirat dari huruf tsa (ث).

Tsa (ث)

Huruf Tsa digambarkan dengan sebuah wadah dengan tiga isi yang memenuhi wadahnya hapir saja tumpah. Penggambaran huruf Tsa ini mengisyaratkan sikap yang harus kita hindari ketika hadir dalam majelis ilmu. Ketika kita hadir dalam majelis ilmu sebaiknya HINDARI bersikap seperti yang digambarkan huruf tsa. Sikap yang menampakan kita cukup terbuka, tetapi dengan isi yang penuh sampai hampir tumpah. Sikap seperti ini menjadikan diri kita tidak bisa menerima pengajaran yang ada di majelis ilmu. Semua ilmu pengetahuan yang diajarkan akan tumpah tak berbekas dikarenakan tidak ada ruang untuk menampung ilmu baru yang diajarkan.

Hadir dalam mejelis ilmu tidaklah sama dengan menghadiri forum debat. Ketika seseorang hadir dalam forum debat, orang akan membawa semua ilmu pengetahuannya, gelar-gelarnya, harta benda juga jabatannya, apa saja yang bisa memberi kesan bahwa apa yang disampaikan adalah kebenaran dan dengan keinginan kuat untuk mengalahkan atau mengganti isi dari lawan debat. Seseorang yang datang di forum debat akan membawa semua yang dia miliki untuk mendapatkan kesan berat atau bernilai tinggi apa yang akan ia sampaikan atau utarakan dengan maksud untuk memecah atau menghancurkan kubu lawan. Saran saya jangan datang ke forum debat sekalipun hanya sebagai perserta bukan narasumber. Jika memungkinan atau bisa meninggalkan sebaiknya juga jangan menonton forum debat kecuali kita cukup mampu menyaring dan berdaulat atas diri kita.

Huruf Tsa adalah gambaran untuk orang-orang yang datang ke majelis ilmu dengan membawa semua hal yang ia kuasai. Orang yang datang ke majelis ilmu hanya untuk mencitrakan bahwa dirinya cukup terbuka dengan kedatangannya, tetapi dengan sombong ia membawa serta semua ilmu yang dikuasainya, menggenggam semua harta bendanya, dan memakai semua jubah / atribut kekuasaannya yang melekat padanya. Sikap seperti itu menyebabkan ia tidak mendapatkan apa-apa setelah pulang dari majelis ilmu. Bisa saja ia bilang “Aku terbuka akan pendapat orang lain, aku terbuka sudut pandang dari narasumber.” Tetapi sesungguhnya ia angkuh, dan tidak pernah peduli akan pendapat atau sudut pandang orang lain. Ia datang ke majelis ilmu hanya untuk riya, dan ingin dianggap dan dibenarkan tanpa pernah peduli sudut padang dari orang lain. Oleh karena itu hindarilah sikap seperti apa yang digambarkan oleh huruf tsa dan bersikaplah seperti huruf ba dibanyak kesempatan, karena majelis ilmu bisa terjadi dimana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja.

Hindarilah bersikap seperti penggambaran huruf tsa yaitu hadir di majelis ilmu dengan wadah yang penuh sesak sampai munjung. Sikap seperti itu membuat kita jadi sombong. Seandainya saja wadah itu adalah wadah yang lentur seperti tas kresek, jika diisi dengan penuh sampai munjung juga akan menjadi keras karena telah sampai batas renggangnya. Itulah sikap sombong yang keluar karena kita membawa semua isi yang kita miliki untuk hadir di majelis ilmu.


 

Na atau Nun (ن)

Wadah seperti mangkuk lengkap dengan isinya adalah gambar dari huruf nun. Selayaknya hidangan yang dihidangakan dan siap disantap itulah huruf nun. Maka huruf nun tampilan atau sikap yang kita tampakkan setelah datang dari majelis ilmu. Lalu seperti apakah isi dari wadah itu (nun)? Isi dari wadah itu adalah hasil dari ilmu yang kita dapat selama mengikuti majelis ilmu kemudian kita timbang-timbang dengan semua ilmu pengetahuan yang telah kita miliki sebelumnya. Kemudian kita mengambil sikap atas ilmu yang baru kita dapatkan tersebut. Sikap yang kita ambil itu diantaranya sebagai berikut.

Pertama, kita mengambil dan menerima seluruh ilmu yang telah kita tampung setelah dari majelis ilmu. Sikap ini kita ambil karena ilmu pengetahuan yang baru itu menambah pemahaman, pengertian pada ilmu yang telah kita kuasai sebelumnya. Ilmu pengetahuan yang baru itu, menambah nilai, memberikan sudut pandang baru, dan menguatkan keyakinan kita terhadap ilmu yang telah kita kuasai sebelumnya. Tentu saja ilmu baru tersebut sesuai dengan semua norma yang kita yakini dan kita kerjakan selama ini.

Kedua, mengambil sebagian dan membuang sebagian lainnya. Setelah kita menimbang-nimbang, membanding-bandingkan, dengan ilmu pengetahuan yang sebelum sudah kuasai. Kemudian menakar dan mengukur dengan norma-norma yang kita percaya dan yakini, Kita memutuskan bahwa hanya sebagian dari ilmu baru yang kita dapatkan dari majelis ilmu ini yang bersesuaian, yang tepat, yang bisa menambah nilai. Sedangkan sebagian lainya belum tepat, dan tidak bersesuaian dengan kepercayaan kita dan keyakinan kita. Kita akan membungkus rapi sebagian itu, kita buang itu dan tidak mengingat lagi. Atau jika kita ingin menyimpannya, kita akan bungkus rapi dan hanya akan membuka atau membahasnya di dalam majelis ilmu dengan mengungkapkan dimana letak ketidaksesuaian atau ketidaktepatan yang ada.

Ketiga, tidak mengambil sama sekali ilmu yang baru kita dapat di majelis ilmu itu. Sikap ini adalah yang tersulit untuk bisa dilakukan. Hal ini karena ketika kita hadir dalam majelis ilmu, kadang kala kita tidak hanya menerima ilmu yang sedang disampaikan begitu saja. Bisa saja ketika kita mendengarkan dan menyimak ilmu dari sang penyaji, bisa saja sikap huruf ta (ت) aktif. Sikap dimana kita membandingkan apa yang disampaikan oleh penyaji dengan ilmu pengetahuan yang telah kita kuasai sebelumnya. Hal ini karena ketika kita merasa bahwa hal yang disampaikan ini janggal atau ada nilai yang bertolak belakang dengan nilai-nilai yang kita percaya dan kita yakini. Jika ada konfirmasi bahwa nilai-nilai yang disampaikan itu berlawanan dengan nilai-nilai ada, bisa saja kita keluar dan meninggalkan majelis ilmu tersebut dengan pertimbangan tidak ada manfaat, atau bisa saja jika bertahan di sana kita akan terpengaruh. Keputusan untuk terus menyimak dilakukan jika kita yakin bahwa kita cukup kuat untuk tidak terpengaruh, atau kita memutuskan untuk mendengar dan menyimak untuk mengetahui dengan utuh semua ilmu yang disampaikan sang penyaji. Sikap untuk tetap diam dan menyimak dalam situasi tersebut sangat sulit dilakukan disaat yang bersamaan kita juga membandingan apa yang disampaikan berlawanan dengan norma atau keyakinan yang selama ini kita yakini. Situasi seperti itu sulit, sakit, sempit, sesak dan tertekan. Jika kita tidak mampu menahan semua rasa itu maka kita akan keluar atau pergi. Pergi adalah pilihan sulit yang harus kita ambil dengan menimbang bahwa dampak buruk akan kita terima jika terus berada di majelis tersebut.

Nun (ن) bersisi tentang ilmu pengetahuan yang selama ini kita pelajari dan kita terima. Ilmu pengetahuan tersebut telah kita saring, kita timbang-timbang, kita angan-angan, kita pikir-pikir, kita banding-bandingakan kemudian kita pakai, kita kenakan, kita genggam, kita tancamkan dalam sebagai sandaran dari semua norma, aturan yang ada sehingga mengkuatkan kita, menjadikan kita kokoh, tidak goyah, tidak hanyut dan tidak terbuai. Ketika ada ilmu pengetahuan baru datang, maka ilmu itu juga harus melewati tahapan-tahapan penyaringan, pertimbangan, perbandingan sampai kita putuskan bahwa ia bisa bahan tambahan untuk menguatkan. Apabila ilmu baru itu justru berpotensi untuk melemahkan, mengerogoti maka kita boleh membuang ilmu itu atau menguburkan dalam.

Maka nun itu adalah kebaikan yang kita tampakkan setelah hadir dari majelis ilmu. Kebaikan ahlak atau sikap muncul karena setelah memahami banyak ilmu pengetahuan, kita menjadi tahu banyak hal yang saling terkait dan berhubungan satu dengan yang lain. Sesuatu yang buruk tentu saja tidak layak dan tidak elok untuk ditampakan. Sesuatu yang busuk sebaiknya dikubur dalam, karena sesuatu yang busuk itu menyebabkan rasa tidak nyaman. Rasa tidak nyaman timbul karena ada batas tertentu yang bisa kita toleransi. Jika kebusukan menimbulkan ketidaknyamanan pada diri sendiri, bisa jadi orang lain juga akan merasakan ketidaknyamanan yang sama. Walaupun batas-batas toleransi tiap individu berbeda-beda. Bersikap sopan, berkata santun, sareh atau lembut, berpenampilan bersih, rapi, kita lakukan atau menjadi ahlak kita, karena kita memahami bahwa kita hidup terikat akan sejumlah aturan, ada banyak batasan-batasan, maka kita putusan untuk bersikap atau berahlak baik.


Ba Ta Tsa Na

Sungguh tidak ada kaitkan antara huruf hijaiyah khususnya huruf ba, ta, tsa, nun, dengan semua uraian saya di atas. Tapi ada rasa aneh ketika saya melihatnya, ada rasa janggal yang menggelitiki saya, sampai muncul pertanyaan adakah pesan yang tersirat di sana? Uraian di atas hanyalah ikhtiar saya untuk menjawab pertanyaan itu. Jawaban itu menjadi pegangan saya dalam meniti kehidupan, jawaban itu menjadi jalur pandu perjalanan saya, jawaban itu yang menahan saya dari tergelincir berulang. Karena jawaban itu saya susun dari kepingan-kepingan di masa lalu. Di sana ada potongan Kus di waktu SD, ada potongan Kus di waktu SMP, SMA, bekerja, bermain, nongkrong. Kemudian semakin banyak saya memahami tentang keterkaitan sesuatu hal dengan sesuatu hal yang lain. Saya renungkan hal-hal itu, saya kait-kaitan satu dengan yang lain. Saya susun ulang gampe-gampe itu, kemudian menjadi sesuatu. Jadilah tulisan ini ba ta tsa ba.

Ada yang tidak saya masukkan di sana, yaitu huruf ya. Karena yang menimbang bahwa ya itu tidak berfungsi seperti wadah, walaupun gambarnya seperti wadah yang ada pegangannya dengan dua isi di bawahnya. Tetapi yang menimbang bahwa fungsi ya bukanlan sebagai wadah. Ya dan ta meliki fungsi lain yaitu sebagai petunjuk gender. Jika ta dengan dua isi di atas untuk menunjukkan jenis kelamin perempuan maka ya untuk menunjukkan jenis kelamin laki-laki. Dalam hal ini saya bisa saja salah, tapi sudah saya putuskan bahwa batasannya ya hanya ba ta tsa dan na.

Jika tulisan ini sampai pada kamu, terima kasih sudah menerima dan menyimaknya. Selanjutnya kamu bebas terhadapnya.


Ba Ta Tsa Na

  Kata Air Air adalah sebuat kata yang digunakan untuk menyebutkan zat yang berbentuk cair, tidak berbau, tidak berwarna, tidak berasa dan...