Kata Air
Air adalah sebuat kata yang
digunakan untuk menyebutkan zat yang berbentuk cair, tidak berbau, tidak
berwarna, tidak berasa dan berfungsi sebagai pelarut zat lain bagi organisme
dan dibutuhkan oleh mahluk hidup hewan, tumbuhan dan manusia. Kata “air” adalah tafsir paling sederhana
dari zat cair yang dimaksud tersebut, dan kata “air” hanya tepat dan presisi untuk menafsirkan zat cair tersebut
jika digunakan dalam Bahasa Indonesia atau
induk dari Bahasa Indonesia. Karena kita tahu bahwa Bahasa Indonesia adalah
bahasa baru yang diturunkan dari berbagai bahasa induk yang hidup dan
dituturkan oleh seluruh suku yang ada di Indonesia terutama bahasa melayu.
“Air” ketika kita mendengar
pengucapkan kata itu, kita yang menuturkan Bahasa Indonesia, secara otomatis
akan mengerti maksud dari kata tersebut diperuntukan untuk menyebutkan zat cair
yang tidak berbau, dan biasa kita gunakan untuk membersihkan diri atau kita gunakan
untuk minum. Tetapi zat cair yang sama, akan disebut berbeda oleh bangsa lain
yang menuturkan bahasa yang bukan Bahasa Indonesia. Orang Inggris menyebutnya
dengan “water”, orang Arab menyebutnya “ma’” , orang Cina menyebutnya “shui”,
orang Jepang menyebutnya “mizu”,
orang Portugis menyebutnya “agua”,
dan masih banyak lagi.
Dari semua kata yang
digunakan untuk menyebutkan benda cair itu, “air,
water, ma’, shui, mizu, agua, aqua, nero, maji, jala, biyo, banyu, cai, danum,
uwe, wai, H2O” dan lain sebagainya kata yang digunakan untuk
menyebut zat cair tidak berasa, tidak berbau, berfungsi sebagai pelarut, dan
kita minum. Kata manakah yang paling benar, paling presisi, paling tepat,
paling akurat, paling pas untuk sebutan zat cair tersebut? Tidak
ada! karena kata-kata itu semua adalah tafsir dari penyebutan
zat tersebut. Karena semua yang terlihat jika ingin didengar maka diperlukan
tafsir, semua yang terasa jika ingin didengar juga butuh tafsir, begitu pula
sebaliknya.
Hal lain yang tersirat dari
kata air adalah, tidak ada satupun
manusia, atau kumpulan manusia (bangsa), atau ras manusia melebihi manusia lain, bangsa lain,
atau ras lain. Karena
kebenaran sejati adalah ia yang tak terukur, tak terkira, tak terbatas, dan tak
hingga. Karena kebenaran di sisi mahluk (ciptaan) adalah terbatas, terbatas
jangkauannya, terbatas waktunya, terbatas ruangnya, terbatas rasanya, terbatas
suaranya. Maka apapun yang saya tulis di buku ini, atau tulisan saya
sebelumnya, atau tulisan saya setelah buku ini tidaklah
mutlak benar! Oleh karena timbang-timbanglah lagi apa yang kamu
dapatkan di sini, banding-bandingkan lagi semuanya dengan pengetahuanmu
sebelumnya.
Jika apa yang ada di sini,
cukup logis, bisa diterima akal, dan bisa membuat kamu lebih baik dalam
bersikap, lebih baik dalam bernalar, lebih baik dalam mengambil keputusan, maka
ambillah itu dan peganglah itu. Tapi perlu diingat bahwa kebenaran mutlak
tetaplah ia yang tak terukur, tak terkira, tak hingga dan tak terbatas. Dan apa
yang ada di sini hanya benar terbatas lingkupnya, terbatas ruang, terbatas
waktu dan tidaklah mengganti, atau menyalahkan
nilai, atau kebenaran sebelumnya. Tidak pula segala sesuatu sebelum ini
salah, ini hanya tafsir atau cara pandang dari sudut lain. Ini selayaknya H2O
yang tidak menggantikan kata sebelumnya tidak pula menyalahkan penyebutan
sebelum, hanya cara pandang lain dikarenakan cara atau metode mengenali benda
cair itu berbeda dengan cara sebelumnya yang sudah ada.
Saya ini seperti seniman seni
rupa yang mendapati banyak dahan dan ranting kering berserakan lalu
mengumpulkannya dan menyusunnya sehingga menjadi bentuk atau rupa seperti
sesuatu dalam pandangan kita. Orang lain atau seniman lain bisa saja membuat
bentuk lain, rupa lain. Dan dimata pengrajin kayu, dahan dan ranting kering
bisa dibuat sesuatu yang memiliki fungsi lain, dan ditangan pengumpul kayu
bakar, dahan dan rating kering dibakar hanya akan menjadi abu tetapi dengannya
akan ada makanan yang dimasak dan menguatkan dia untuk melanjutkan kehidupannya.
Apabila tulisan ini sampai
padamu, bebas bagimu untuk mengambilnya dan menjadikan hiasan dalam rumah,
bebas pula kamu meninggalkannya begitu saja, bebas pulang membongkar dan
membentuknya ulang, bebas pula kamu membakar atau mencampakkannya. Hanya sebuah
harapan yang menyertai tulisan ini yaitu membuat kita menjadi lebih baik
(berproses memperbaiki diri) dan saya tidak akan pernah menarik atau
membatalkan harapan itu.
Penulis Raden Kuswanto 2026
Mengapa?
Mengapa ba ta tsa(sa) na?
Mengapa huruf hijaiyah? Ada banyak ragam tulisan di dunia ini, ada banyak
aksara di dunia ini. Ada “alphabet”,
“hijaiyah (arab)”, “hanzi”, “kanji”, “Devanagari”, “hanacaraka”, “ibrani”,
“hiroglif”, “hiragana /katakana”, “Lontara”, “ka ga nga”, “kawi”, “pahlawa”, “aksara
paku”, dan lain sebagainya, tetapi bagi saya, ada yang menarik di aksara
hijaiyah. Dari sekian banyak aksara yang saya tahu atau sekedar tahu, dari
beberapa jenis aksara yang saya kenal, ada sesuatu yang menarik pada beberapa
huruf hijaiyah. Saya merasa ada pesan tersirat di sana. Ada sesuatu yang
disampaikan untuk dibaca, dimengerti dan dipahami. Apa yang saya baca, saya
banding-bandingkan dengan sikap ceroboh, dan kesombongan saya di masa yang
lalu.
Saya berusaha untuk
memperbaiki diri untuk saat ini dan kedepannya. Dan aku tulis ini, mungkin
masih ada aku-aku yang lain, yang
terlahir, dan masih menggegam kesombongan dan sering melakukan
kecerobohan-kecerobohan dalam majelis ilmu, mencari ilmu, ataupun terjebak
dalam lingkungan ilmu dan keilmuan. Mungkin masih ada aku-aku yang lain, yang hidup dengan menggigit keangkuhan, berjubah
kesombongan, bertameng kedigdayaan, dan memegang amarah, sehingga tidak sempat
menyadari telah terlempar dikehidupan fana dunia. Hidup terseret derasnya arus
dunia, tenggelam dalam kemegahan dunia, terkubur lumpur nafsu duniawi sehingga
tidak sempat berfikir dan merenungi bahwa hidup ini hanyalah temuan, terperangkap pada raga yang
cuma dibekali perangkat indra dengan kemampuan terbatas.
Kita hanyalah penemu bukan
pemilik, maka janganlah mengaku-aku barang temuan, mengklaim-klaim
kepemilikkan. Merendahlah kamu di majelis ilmu, tahanlah dirimu, dengarkan
dengan seksama, perhatikan detil, pikirkan, resapi dan renungkanlah semuanya.
Hal yang menarik itu adalah
bentuk gambar atau huruf hijaiyah yang menyerupai mangkuk / ember atau wadah
penampungan. Dimana bentuk ini tidak saya kenal atau saya temui di
bentuk-bentuk huruf atau ragam aksara lainnya yang saya kenal, yang saya tahu, atau
yang dikenalkan atau diajarakan oleh guru-guru saya atau diberi tahu contoh
ragam penulisan yang pernah ada di batu-batu peninggalan peradaban terdahulu
(prasasti).
Hal yang menarik lainnya
adalah bahwa tidak ada gambar atau bentuk huruf yang menyerupai wadah itu
digambarkan atau dituliskan “kosong”.
Kondisi tersebut seperti menggeletik akal saya, merangsang saya bertanya “Mengapa?”, adakah pesan yang perlu
diuraikan di sana yang tidak hanya sekedar bunyi atau lafal huruf saja. Jika
ada pesan tersirat seperti apa itu? Ketika saya mengerti cara pelafalan
huruf-huruf tersebut, hal tersebut tidak membuat saya puas, tidak bisa membuat
saya cukup hanya sekedar bisa melafalkan bunyinya, bahkan perubahan bentuknya
di awal, di tengah ataupun di akhir kata belum cukup untuk menghetikan rasa
penasaran saya.
Bahkan setelah saya tahu
bahwa, huruf-huruf itu awalnya kosong semua, tidak bisa dibedakan satu dengan
yang lainnya ketika membentuk satu kata atau kalimat, sedangkan untuk
membunyikan atau melafalkannya saat itu diperlukan hafalan, atau kewajaran atau
kebiasaannya kata atau kalimat itu. Bentuk sebelumnya tidak bisa dibedakan
antara ba, ta, tsa, nun, sin, ataupun syin.untuk bisa membacanya waktu itu
berdasarkan hafalan dan makna atau maksud dari kalimat yang dituliskan itu.
Kemudian ada beberapa orang
atau ilmuan yang mencoba untuk menguraikan dengan menambahkan pembeda untuk
bisa membedakan bentuk huruf satu dengan yang lain, supaya jelas pelafalannya.
Pengetahuan baru itu juga masih saja menggelitik saya, mengapa mereka tidak
menyisakan satu bentuk huruf yang kosong? Mengapa, mengapa, dan mengapa? Saya
sudah mencoba mencari jawaban, membuka semua literasi yang bisa saya akses dan
temukan. Menyelam dalam ke akses informasi dunia. (internet).
Semakin dalam saya menyelam
tidak ada jawaban yang membuat saya puas, justru saya banyak menemui
godaan-godaan yang ditawarkan ke saya, diiming-imingi ke saya. “mungkin kamu
butuh ini, mungkin kamu suka ini, mungkin ini yang kamu perlukan, ini kayaknya
cocok buatkamu, ini sangat kamu butuhkan” tentu saja mereka tidak secara fulgar
mengatakan demikian tetapi cara kerja algoritma mereka terbaca seperti itu. Aku
tergoda? Ah tentu saja, hal-hal seperti itu tidak hanya menarik saya, tapi
menenggelamkan saya, mebenamkan saya sehingga saya lupa akan pencarian awal
saya. Dan ketika sudah tenggelam dan terbenam, rasanya tangan dan kaki ini
sangat berat, hal-hal itu seperti lem yang sangat kuat, sulit bagi saya lepas,
bahkan untuk menulis ini saya tidak hanya butuh hari, tapi saya melewatkan
minggu, bulan bahkan tahun. Saya terlena, tenggelam dalam, terkubur dan
terbenam. Rasa-rasanya seperti itu, kenyataannya dan yang orang lihat saya
biasa saja, bebas-bebas saja. Aneh! Iya.
Baiklah, mulai dari sini akan
aku susun kepingingan-kepingan itu menjadi satu, akan aku hubungkan gampe-gampe (gambar pecah-pecah) itu
menjadi satu bingkai sehingga menjadi sebuah ilustrasi yang menyerupai sesuatu
atau menggambarkan sesuatu. Aku mencoba melukisan sesuatu dengannya, tapi aku
bukanlah seniman seni rupa karena aku mengilustrasikan itu semua dengan huruf,
kata, dan kalimat. Lebih cocok aku disebut penulis, tapi aku terputus literasi
atau tidak menemukan literasi yang cocok, jadi jangan tanyakan daftar pustaka
kepadaku, jangan pula menanyakan dasar atau rujukan darimana saya merumuskan
itu, Karena saya tidak menemukan atau terputus dari rujukan atau literasi yang
telah ada.
Saya bukanlah akademisi,
karena saya tidak pernah mampu menyelesaikan Pendidikan diploma saya ataupun
menyelesaikan Strata / Sarjana. Saya juga bukan seorang agamawan, yang
menamatkan Pendidikan-pendidikan agama di pesantren, dengan mampu membaca,
mengerti, menerjemahkan kitab-kitab kuning. Saya hanya seorang biasa yang hanya
mengaji (belajar membaca) Al-quran pada ustazdah hanya sampai juzz 6 saja,
itupun dengan pemakluman dari ustazdah saya karena saya kesulitan untuk
melafalkan huruf-huruf hijaiyah sesuai dengan mahraj atau tempat keluarnya
suara dari sebuah huruf.
Saya hanyalah seorang manusia
biasa saja, tanpa gelar, tanpa sebutan. Saya tidak pernah bisa berhenti untuk
bertanya dan berfikir, selalu saja ada pertanyaan-pertanyaan aneh. Dan jawaban
yang ada saat ini, masih saya rasa belum cocok, ataupun saya tidak puas dengan
jawaban singkat. Pertanyaan-pertanyaan itu sering kali tidak menemukan jawaban,
tidak ada literasi yang menerangkan itu *(sebatas yang saya bisa akses, atau
mungkin saja saya terputus dari literasi). Maka saya putuskan untuk berhenti
mencari dan menggali literasi. Jika jawaban tidak saya temukan di luar sana,
maka bagaimana jika saya buat saja sendiri.
Saya seperti punya rumah
dengan dinding kosong, saya tidak mampu membeli hiasan untuknya maka akan saya
buat sendiri, saya kumpulkan ranting-ranting kering, daun-daun kering, saya
rangkai dan satukan untuk menjadi hiasan bagi dinding saja. “Aku sebut diriku
seniman seni rupa yang menggambar dengan huruf, kata, dan kalimat”. Itulah yang
menjadikan semua itu mengapa?
Ba (ب)
Huruf Ba ditulis atau
digambarkan seperti mangkuk dengan isi yang ada dibawahnya. Ini adalah sikap
atau ahlak yang sebaiknya kita lakukan ketika kita ada di dalam majelis ilmu. Yaitu
sikap menyembunyikan pengetahuan yang sudah kita miliki dan menyiapkan diri
untuk menerima ilmu dengan cara mengosongkan ruang penampungan atau penyimpanan
ilmu. Pengetahuan yang sudah kita miliki cukup disembunyikan, tidak ditampakan,
tidak pula dibuang atau dihilangkan. Nanti di bab selanjutnya “ta” kita akan
tahu apa kegunaan dari pengetahuan yang sudah kita miliki saat ini. Apa saja
yang perlu kita siapkan dan bagaimana cara kita menyiapkan diri? Berikut ini
adalah beberapa hal yang sebaiknya kita lakukan sebelum atau selama berada di majelis
ilmu.
1.
Ilmu dan
pengetahuan
Ketika
kita menghadiri majelis ilmu, kita datang dengan sejumlah pengetahuan dasar.
Kita tahu nama-nama benda “kursi, meja, gedung, buku, balpoin, penghapus, apel,
jeruk, baju, topi, celana”, kita tahu sejumlah atribut yang menyusun identitas
kita “nama, alamat, mata, hidung, mulut, jenis kelamin, ayah, ibu”, kita bisa
menyebutkan sejumlah kegiatan dasar kita “duduk, berdiri, berlari, diam, mendengar,
melihat, meraba, merasa, tidur, makan, minum, dan lainnya”, dan banyak lagi
sebutan atau nama tentang suatu obyek, atau nama-nama sifat. Kita juga tahu
hitung-hitungan dasar, satuan-satuan, pengukuran-pengukuran. Semua hal yang
kita tahu, nama-nama, sebutan-sebutan, sifat-sifat yang melekat, semua itu
adalah pengetahuan.
Kemudian,
selain pengetahuan dasar, kita juga mengetahui berbagai fungsi atau kegunaan
dari berbagai benda-benda disekitar kita. Kita juga mengerti keterkaitan antara
satu benda dengan benda lain. Kita juga mengetahui pengaruh benda satu dengan
benda lainnya jika dipertemukan, atau dicampurkan. Pengetahuan akan
sebab-akibat, saling keterkaitkan satu dengan yang lainnya, hubungan pengaruh
dan mempengaruhi. Pengetahuan tentang ada sebuah sistem di alam yang saling
keterkaitan, ada aturan-aturan tertentu di alam, semua itu adalah ilmu. Gabungan
keduanya sering kita kenal sebagai ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan yang
kita miliki, yang kita ketahui atau yang kita kuasai, untuk sementara harus
kita sembunyikan ketika kita menghadiri majelis ilmu. Hal ini kita lakukan dalam rangka mempersiapkan diri untuk
menampung ilmu baru, apapun itu yang disampaikan oleh sang penyaji. Dengan
menyembunyikan ilmu pengetahuan yang kita kuasai, akan membantu kita untuk
lebih fokus dalam mendengarkan orang yang menyajikan atau mengajarkan ilmu. Dengan
menyembunyikan ilmu pengetahuan, kita akan lebih memperhatikan apa yang
disampaikan oleh guru atau orang yang mempresentasikan ilmu. Ketika kita bisa
memperhatikan lebih baik dan mengdengarkan dengan seksama, kita akan menyerap
ilmu lebih baik dari yang sebelumnya.
Ilmu Pengetahuan yang kita kuasai untuk sementara kita sembunyikan
dulu selayaknya huruf ba. Kita
kemudian mengambil sikap terbuka menyiapkan wadah kosong untuk menerima ilmu
dari Sang Guru atau Sang Penyaji, siapapun itu, apapun gelar, berapapun
umurnya, karena kita belajar dari siapaun dan dari apapun itu. Dengan meletakan
pengetahuan di bawah, kita telah berada dalam kondisi siap menampung semua ilmu
dan pengetahuan apapun dan dari siapapun.
2.
Harta
benda
Hal
yang selanjutnya perlu kita sembunyikan adalah harta benda yang kita miliki.
Harta benda yang dimaksud adalah harta benda yang tidak ada kaitannya sebagai
alat bantu, atau perangkat yang digunakan untuk menerima, mencatat, merekam,
atau mendokumentasikan apa yang disampaikan oleh guru ataupun penyaji. Harta
benda apapun itu yang biasa digunakan untuk menunjukan gaya, gengsi, kemewahan,
kekayaan, prestis, dan lain sebagainya.
Semua
barang-barang yang bisa mengalihkan kita untuk tidak bisa fokus dalam menerima
pengajaran sebaiknya disembunyikan dulu atau tidak dibawa ketika menghadiri
majelis ilmu, kuliah atau kajian. Karena benda-benda atau barang-barang
tersebut akan membuat kita merasa penting, butuh diperhatikan atau ditandai
oleh orang-orang lain yang hadir di majelis ilmu yang sama. Sebab benda-benda
itu pula bisa mengalihkan fokus kita, yang seharusnya kita gunakan untuk
menerima pengajaran menjadi sibuk mencari perhatian dari orang lain, secara
diam-diam.
Maka
ada baiknya harta kekayaan ditinggalkan di rumah atau tidak perlu dibawa ketika
menghadiri majelis ilmu. Karena harta kekayaan punya potensi untuk menjadi
tutup bagi diri kita, sehingga kita tidak mampu menerima atau menampung ilmu
dari Sang Penyaji.
3.
Jabatan
atau kekuasaan
Jabatan
dan kekuasaan biasanya melekat seragam dinas / kedinasan dengan segela atribut
yang menyertainya. Akan tetapi ketika hadir dalam mejelis ilmu, yang sebaiknya
ditinggal, atau diletakkan terlebih dahulu bukan hanya seragam dan semua
atribut yang menempel padanya. Jabatan dan kekuasaan yang rasa memilikinya,
juga sebaiknya diletakkan atau disembunyikan dulu.
Jabatan
dan kekuasaan janganlah dikenakan atau lebih baik disembunyikan dulu, tidak
hanya pada simbol-simbolnya yang berbentuk seragam dan atributnya tetapi juga
pada rasa bahwa kita memiliki jabatan dan kekuasaan tersebut. Karena dengan
menyebunyikannya kita akan lebih aman dari penyakit ingin selalu diperhatikan,
dimengerti, dimaklumi, dibenarkan, disanjung, dihormati, dan lain sebagainya.
Dengan
menyembunyikan atau menanggalkan jabatan dan kekuasaan akan lebih mudah bagi
kita untuk membuka diri dan bersiap untuk menerima ilmu dari penyaji atau dari
siapapun yang mempresentasikan dirinya. Karena ilmu dan pengetahuan tidak hanya
disajikan dalam bentuk tutur dan kata, tetapi kadang juga ditampilkan dalam
gerak dan laku dari Si Pengandungnya.
Itulah sikap atau ahlak yang
tersirat dari penggambaran huruf ba (ب) dan
terbaca seperti itu bagi saya. Penggambaran huruf ba menyiratkan sikap bahwa kita perlu menyembunyikan ilmu
pengetahuan yang kita miliki ketika hadir dalam mejelis ilmu. Kemudian kita
bersiap diri, dan terbuka akan cara padang lain yang mungkin saja berbeda atau
bahkan bertolak belakang dengan semua kaidah dan ilmu pengetahuan yang kita
miliki saat ini. Bisa jadi sesuatu yang terasa berbeda atau bertolak belakang,
hal itu karena kita belum menguasai cara atau metode yang digunakan atau
dikuasai oleh penyaji (guru). Rasa
yang berbeda bisa jadi karena masih sempitnya keilmuan yang ada pada kita, atau
karena batasan-batasan yang kita tetapkan dalam memandang atau memaknai
sesuatu.
Ingat kita hanya perlu menyembunyikan saja atau cukup
menanggalkannya sementara saja selama ada di manjelis ilmu. Dan jika ada guru atau orang yang kita berguru
kepadanya, kemudian Ia meminta kita untuk meninggalkannya semuanya,
mengosongkan pikiran dan lain sebagainya, bersikaplah WASPADA karena apa yang dia
ajarakan, kita diminta untuk membenarkan atau menganggap kebenaran tanpa kita
diijinkan untuk menimbang-nimbang lagi. Karena semua pembanding yaitu ilmu dan
pengetahuan kita diminta untuk dibuang. Bisa jadi dia menginginkan kita menjadi
budaknya, yang menuruti semua kemauannya, dan kita tidak bisa berdaulat atas
diri sendiri. Dan rasanya sudah cukup, sudah saatnya kita membaca pesan
tersirat dari penggambaran huruf ta (ت).
Ta (ت)
Sebuah wadah dengan dua isi
adalah penggambaran dari huruf ta. Jika huruf ba menyiratkan pesan
tentang sikap yang perlu kita lakukan sebelum dan selama berada di majelis
ilmu, maka huruf ta memberikan pesan yang perlu dilakukan setelah datang dari
majelis ilmu. Sikap tersebut adalah menimbang-nimbang semua materi atau
pelajaran yang diajarkan guru atau penyaji, di majelis ilmu yang baru saja kita
datangi. Istilah orang jawa menyebutnya angen-angen.
Sekarang setelah kita pulang
dari majelis ilmu, kita telah mempunyai dua isi yang kita letakan dalam wadah
kita (penggambaran huruf ta). Dua isi tersebut yang pertama semua materi ilmu yang baru saja
kita dapat dari majelis ilmu, ilmu dan pengetahuan yang diajarkan atau
disampaikan oleh guru / penyaji / nara sumber. Kedua adalah ilmu dan pengetahuan yang sebelumnya sudah kita
kuasai, kita mengerti, dan kita yakini akan kaidah dan manfaatnya. Pengetahuan
kita tentang nama-nama benda, pengetahuan kita tentang sifat-sifat benda,
pengetahuan kita tentang prilaku, atau penyebutan tentang cara kerja,
pengetahuan kita tentang waktu, pengetahuan kita tentang rasa, pengetahuan kita
tentang pendengaran, aroma, lingkungan sekitar dan lain sebagainya tentang
semua pengetahuan yang telah kita kuasai. Ada pula ilmu yang kita pahami
tentang sesuatu obyek, ilmu tentang pengaruh benda satu dengan benda yang lain,
ilmu tentang lingkungan, ilmu tentang sifat-sifat benda, ilmu ukur, ilmu
hitung, dan semua ilmu yang kita kuasai saat ini.
Ilmu pengetahuan yang telah
kita kuasi itu, kita gunakan untuk menimbang-nimbang ilmu yang baru saja kita
dapat dari majelis ilmu. Mengapa kita perlu menimbang ulang? Karena dalam
majelis ilmu, batas-batasan yang ada dalam hidup dan berkehidupan, norma-norma
yang ada, aturan-aturan hidup yang selama ini diterapkan di masyarakat, itu
boleh dilampui, boleh dilewati, boleh dilanggar dalam kadar tertentu dengan
tujuan untuk dikaji, untuk diuji, untuk dicari nilai baru, untuk diukur adakah
batas baru, atau untuk diketahui adakah sebab yang belum diidentifikasi di
sana. Oleh karena itu batas-batasan tersebut boleh dilampui. Tentu saja seorang
penyaji yang baik, akan mempertimbangkan siapa pendengar yang sedang mengikuti
kajian. Apakah kajiannya itu untuk umum, atau untuk kalangan khusus yang
disyaratkan telah menguasai dasar-dasar keilmuan tertentu yang menunjang materi
yang disajikan.
Contoh sederhana saja, Feses
atau kotoran manusia “tai”
adalah barang yang jorok, tidak boleh diletakkan sembarang, harus dibuang
dikloset, atau harus segera dibersihkan, karena baunya, karena kotornya, karena
joroknya, itu aturan yang ada dan diterapkan dan diajarkan kepada kita semua.
Akan tetapi ketika berada di majelis ilmu kedokteran yang meneliti tentang
penyakit-penyakit pencernaan, maka seorang dosen kedokteran boleh membawa
sampel feses untuk diteliti. Tentu saja sudah ada prosedur-prosedur yang perlu
dipatuhi dalam menyiapkan sampel, membawa sampel, memperlakukan sampel, dan
juga perlengkapan apa saja yang harus dikenakan oleh mahasiswa kedokteran yang
hadir dalam majelis tersebut. Tidak hanya feses saja, ada urin, dahak, bangkai
dan lain sebagainya boleh diambil sampel dan diteliti. Bagaimana dengan ilmu
bahasa, fisika, kimia, biologi, dan disiplin ilmu lainnya? Boleh! Sampel yang
dianggap kotor, jorok, tabu, berbahaya, beracun, berradioaktif, boleh dibawa
dan ditampilkan di majelis ilmu untuk diteliti dan dicari sumber masalahnya.
Tentu saja sampelnya diambil secukupnya saja, tidak berlebihan dan ada
prosedur-prosedur yang harus dilakukan dalam menyiapkan sampel.
Di dalam majelis ilmu,
ketabuan, larangan itu boleh dilewati dalam kadar tertentu dan dalam batasan
tertentu. Kadar dan batasnya secukupnya saja, dan diperlukan tahapan-tahapan
dalam mengambil sampel. Contoh lagi, untuk mengetahui kandungan gizi dalam daun
kelor, maka kita akan mengambil beberapa sampel daun kelor. Dari beberapa
sampel itu, kita perlakukan berbeda-beda, ada yang kita bakar, ada yang kita
tumbuk, ada yang kita rebus, ada yang kita campur dengan bahan lain, semua
proses kita amati, kita ukur waktunya, dilihat reaksinya setelah beberapa
waktu. Akhir dari pencarian itu adalah simpulan-simpulan tentang kandungan dari
daun kelor, kemudian dipadukan dengan keilmuan dari fungsi kandungan-kandungan
tersebut. Setelah kita tahu tentang kandungan dan fungsi daun kelor, maka kita
menentukan sikap (ada adap dan ada akhlak) pada daun kelor. Contohnya, setelah
pencarian tersebut kita tahu ada zat yang berpotensi sebagai racun ketika daun
kelor direbus, kemudian didiamkan dan direbus lagi. Maka kita buat aturan
batasan bahwa sebaiknya daun kelor hanya direbus sekali dan dihabiskan segera,
atau setelah beberapa menit perebusan ada zat yang membantu detoksin menguap
atau hilang maka sikap kita adalah membatasi lama perebusan dari daun kelor.
“Walaupun boleh melampaui batasan-batasan aturan, atau
norma tertentu, tetap saja tidak semua aturan, tidak semua batasan, tidak semua
norma boleh dilanggar, dilampaui, diuji di majelis
ilmu. Tetap saja ada sejumlah aturan / norma yang cukup diterima saja tanpa
periu kita tahu alasan dibalik aturan itu.”
Oleh karena keleluasaannya
yang ada di majelis ilmu, begitu terbukanya dalam menampilkan sampel dari
sebuah obyek, begitu bebas dalam menyampaikan, menelaah, sebuah pendapat atau
sudut pandang. Maka,
semua yang kita dapat dari majelis ilmu sebaiknya ditimbang-timbang
dulu, dibanding-bandingkan dulu, dengan semua ilmu pengetahuan yang telah kita
miliki sebelum. Perlunya kita saring dulu, apa yang kita dapat dalam majelis
ilmu sebelum kita terima sebagai sesuatu ilmu / kaidah baru. Ilmu pengetahuan
yang tadi kita sembunyiknan berfungsi sebagai pembanding, pemberat, atau
penyaring ilmu yang baru kita dapatkan di majelis ilmu.
“Apapun yang kita dapat dalam majelis ilmu, jangan
pernah langsung diterima begitu saja sebelum kita timbang-timbang nilainya.”
“Apapun materi yang kita dapat di majelis ilmu,
jangan pernah diterima sepenuhnya sebelum diamati dengan seksama, didengar
ulang lebih dalam, dicium, dirasa, dan diraba, apakah itu cukup logis dan bisa
diterima secara akal!”
Semua hal yang kita dapat
dalam majelis ilmu, semua materi yang disampaikan dalam majelis ilmu, semua
ilmu pengetahuan yang diajarkan dalam majelis ilmu, sekalipun itu adalah hal
yang MUTLAK BENAR, Kita sebagai pendengar, Kita
sebagai sasaran obyek penyampaian hal tersebut, Kita diberikan kebebasan untuk
menolak ataupun menerima itu. Kita boleh menerima seluruhnya, boleh menerima
sebagian, boleh pula menolak seluruhnya setelah menimbang-nimbang, setelah
membanding-bandingkan, setelah mengukur-ukurnya apakah yang disajikan dalam
majelis ilmu tersebut cukup logis untuk diterima akal? Apakah kaidah-kaidah
dalam mengambil simpulan-simpulan bisa dinalar? Apakah pernyataan-pernyataan
yang diambil ada analogi yang pas?
Apapun keputusan yang kita
ambil setelah datang dari majelis ilmu, Kita diberi kedaulatan untuk
menentukannya. Mengambil semua ajaran yang diajarkan, dan bertanggung jawab
penuh terhadap akibat yang ditimbulkannya dikemudian hari. Mengambil hanya
sebagian saja dan menolak sebagian yang lainnya. Menolak seluruhnya karena
tidak ada kesesuaian nilai-nilai yang ada dengan ilmu pengetahuan yang telah
kita kuasai sebelumnya. Semua itu kita lakukan dengan kesadaran penuh dan
tanggung jawab atas semua dampak yang mungkin akan terjadi, dan tidak menuntut
balas jika ada akibat buruk yang ditimbulkannya.
Menimbang-nimbang,
membanding-bandingkan, atau mengukur nilai-nilai dari ilmu yang kita dapat
dalam majelis ilmu dengan ilmu pengetahuan yang sebelum telah kita kuasai dan
kita terima, adalah pesan yang tersirat dari penggambaran huruf ta (ت), selanjutnya mari kita baca pesan tersirat dari huruf tsa (ث).
Tsa (ث)
Huruf Tsa digambarkan dengan sebuah wadah dengan tiga isi yang memenuhi
wadahnya hapir saja tumpah. Penggambaran huruf Tsa ini mengisyaratkan sikap yang harus kita hindari ketika hadir
dalam majelis ilmu. Ketika kita hadir dalam majelis ilmu sebaiknya HINDARI bersikap seperti yang digambarkan
huruf tsa. Sikap yang menampakan kita
cukup terbuka, tetapi dengan isi yang penuh sampai hampir tumpah. Sikap seperti
ini menjadikan diri kita tidak bisa menerima pengajaran yang ada di majelis
ilmu. Semua ilmu pengetahuan yang diajarkan akan tumpah tak berbekas dikarenakan
tidak ada ruang untuk menampung ilmu baru yang diajarkan.
Hadir dalam mejelis ilmu
tidaklah sama dengan menghadiri forum debat. Ketika seseorang hadir dalam forum
debat, orang akan membawa semua ilmu pengetahuannya, gelar-gelarnya, harta
benda juga jabatannya, apa saja yang bisa memberi kesan bahwa apa yang
disampaikan adalah kebenaran dan dengan keinginan kuat untuk mengalahkan atau
mengganti isi dari lawan debat. Seseorang yang datang di forum debat akan
membawa semua yang dia miliki untuk mendapatkan kesan berat atau bernilai
tinggi apa yang akan ia sampaikan atau utarakan dengan maksud untuk memecah
atau menghancurkan kubu lawan. Saran saya jangan datang ke forum debat
sekalipun hanya sebagai perserta bukan narasumber. Jika memungkinan atau bisa
meninggalkan sebaiknya juga jangan menonton forum debat kecuali kita cukup
mampu menyaring dan berdaulat atas diri kita.
Huruf Tsa adalah gambaran untuk orang-orang yang datang ke majelis ilmu
dengan membawa semua hal yang ia kuasai. Orang yang datang ke majelis ilmu
hanya untuk mencitrakan bahwa dirinya cukup terbuka dengan kedatangannya,
tetapi dengan sombong ia membawa serta semua ilmu yang
dikuasainya, menggenggam semua harta bendanya, dan memakai semua jubah /
atribut kekuasaannya yang melekat padanya. Sikap seperti itu menyebabkan ia
tidak mendapatkan apa-apa setelah pulang dari majelis ilmu. Bisa saja ia bilang
“Aku terbuka akan pendapat orang lain, aku terbuka sudut pandang dari
narasumber.” Tetapi sesungguhnya ia angkuh, dan tidak pernah peduli akan
pendapat atau sudut pandang orang lain. Ia datang ke majelis ilmu hanya untuk
riya, dan ingin dianggap dan dibenarkan tanpa pernah peduli sudut padang dari
orang lain. Oleh karena itu hindarilah sikap seperti apa yang digambarkan oleh
huruf tsa dan bersikaplah seperti
huruf ba dibanyak kesempatan, karena
majelis ilmu bisa terjadi dimana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja.
Hindarilah bersikap seperti penggambaran huruf tsa yaitu hadir di majelis ilmu dengan
wadah yang penuh sesak sampai munjung. Sikap seperti itu membuat kita jadi
sombong. Seandainya saja wadah itu adalah wadah yang lentur seperti tas kresek,
jika diisi dengan penuh sampai munjung juga akan menjadi keras karena telah
sampai batas renggangnya. Itulah sikap sombong yang keluar karena kita membawa
semua isi yang kita miliki untuk hadir di majelis ilmu.
Na atau Nun
(ن)
Wadah seperti mangkuk lengkap dengan isinya adalah
gambar dari huruf nun. Selayaknya hidangan yang dihidangakan dan siap disantap
itulah huruf nun. Maka huruf nun tampilan atau sikap yang kita tampakkan
setelah datang dari majelis ilmu. Lalu seperti apakah isi dari wadah itu (nun)?
Isi dari wadah itu adalah hasil dari ilmu yang kita dapat selama mengikuti
majelis ilmu kemudian kita timbang-timbang dengan semua ilmu pengetahuan yang
telah kita miliki sebelumnya. Kemudian kita mengambil sikap atas ilmu yang baru
kita dapatkan tersebut. Sikap yang kita ambil itu diantaranya sebagai berikut.
Pertama, kita
mengambil dan menerima seluruh ilmu yang telah kita tampung setelah dari
majelis ilmu. Sikap ini kita ambil karena ilmu pengetahuan yang baru itu
menambah pemahaman, pengertian pada ilmu yang telah kita kuasai sebelumnya.
Ilmu pengetahuan yang baru itu, menambah nilai, memberikan sudut pandang baru,
dan menguatkan keyakinan kita terhadap ilmu yang telah kita kuasai sebelumnya.
Tentu saja ilmu baru tersebut sesuai dengan semua norma yang kita yakini dan
kita kerjakan selama ini.
Kedua, mengambil
sebagian dan membuang sebagian lainnya. Setelah kita menimbang-nimbang,
membanding-bandingkan, dengan ilmu pengetahuan yang sebelum sudah kuasai.
Kemudian menakar dan mengukur dengan norma-norma yang kita percaya dan yakini,
Kita memutuskan bahwa hanya sebagian dari ilmu baru yang kita dapatkan dari
majelis ilmu ini yang bersesuaian, yang tepat, yang bisa menambah nilai.
Sedangkan sebagian lainya belum tepat, dan tidak bersesuaian dengan kepercayaan
kita dan keyakinan kita. Kita akan membungkus rapi sebagian itu, kita buang itu
dan tidak mengingat lagi. Atau jika kita ingin menyimpannya, kita akan bungkus
rapi dan hanya akan membuka atau membahasnya di dalam majelis ilmu dengan
mengungkapkan dimana letak ketidaksesuaian atau ketidaktepatan yang ada.
Ketiga, tidak
mengambil sama sekali ilmu yang baru kita dapat di majelis ilmu itu. Sikap ini
adalah yang tersulit untuk bisa dilakukan. Hal ini karena ketika kita hadir
dalam majelis ilmu, kadang kala kita tidak hanya menerima ilmu yang sedang
disampaikan begitu saja. Bisa saja ketika kita mendengarkan dan menyimak ilmu
dari sang penyaji, bisa saja sikap huruf ta
(ت) aktif. Sikap
dimana kita membandingkan apa yang disampaikan oleh penyaji dengan ilmu
pengetahuan yang telah kita kuasai sebelumnya. Hal ini karena ketika kita
merasa bahwa hal yang disampaikan ini janggal atau ada nilai yang bertolak
belakang dengan nilai-nilai yang kita percaya dan kita yakini. Jika ada
konfirmasi bahwa nilai-nilai yang disampaikan itu berlawanan dengan nilai-nilai
ada, bisa saja kita keluar dan meninggalkan majelis ilmu tersebut dengan
pertimbangan tidak ada manfaat, atau bisa saja jika bertahan di sana kita akan
terpengaruh. Keputusan untuk terus menyimak dilakukan jika kita yakin bahwa
kita cukup kuat untuk tidak terpengaruh, atau kita memutuskan untuk mendengar
dan menyimak untuk mengetahui dengan utuh semua ilmu yang disampaikan sang
penyaji. Sikap untuk tetap diam dan menyimak dalam situasi tersebut sangat
sulit dilakukan disaat yang bersamaan kita juga membandingan apa yang
disampaikan berlawanan dengan norma atau keyakinan yang selama ini kita yakini.
Situasi seperti itu sulit, sakit, sempit, sesak dan tertekan. Jika kita tidak
mampu menahan semua rasa itu maka kita akan keluar atau pergi. Pergi adalah
pilihan sulit yang harus kita ambil dengan menimbang bahwa dampak buruk akan
kita terima jika terus berada di majelis tersebut.
Nun (ن)
bersisi tentang ilmu pengetahuan yang selama ini kita pelajari dan
kita terima. Ilmu pengetahuan tersebut telah kita saring, kita timbang-timbang,
kita angan-angan, kita pikir-pikir, kita banding-bandingakan kemudian kita
pakai, kita kenakan, kita genggam, kita tancamkan dalam sebagai sandaran dari
semua norma, aturan yang ada sehingga mengkuatkan kita, menjadikan kita kokoh,
tidak goyah, tidak hanyut dan tidak terbuai. Ketika ada ilmu pengetahuan baru
datang, maka ilmu itu juga harus melewati tahapan-tahapan penyaringan,
pertimbangan, perbandingan sampai kita putuskan bahwa ia bisa bahan tambahan
untuk menguatkan. Apabila ilmu baru itu justru berpotensi untuk melemahkan,
mengerogoti maka kita boleh membuang ilmu itu atau menguburkan dalam.
Maka nun itu adalah kebaikan yang kita tampakkan
setelah hadir dari majelis ilmu. Kebaikan ahlak atau sikap muncul karena setelah
memahami banyak ilmu pengetahuan, kita menjadi tahu banyak hal yang saling terkait
dan berhubungan satu dengan yang lain. Sesuatu yang buruk tentu saja tidak
layak dan tidak elok untuk ditampakan. Sesuatu yang busuk sebaiknya dikubur
dalam, karena sesuatu yang busuk itu menyebabkan rasa tidak nyaman. Rasa tidak
nyaman timbul karena ada batas tertentu yang bisa kita toleransi. Jika kebusukan
menimbulkan ketidaknyamanan pada diri sendiri, bisa jadi orang lain juga akan
merasakan ketidaknyamanan yang sama. Walaupun batas-batas toleransi tiap
individu berbeda-beda. Bersikap sopan, berkata santun, sareh atau lembut, berpenampilan
bersih, rapi, kita lakukan atau menjadi ahlak kita, karena kita memahami bahwa
kita hidup terikat akan sejumlah aturan, ada banyak batasan-batasan, maka kita
putusan untuk bersikap atau berahlak baik.
Ba Ta Tsa Na
Sungguh tidak ada kaitkan antara huruf hijaiyah
khususnya huruf ba, ta, tsa, nun, dengan semua uraian saya di atas. Tapi ada
rasa aneh ketika saya melihatnya, ada rasa janggal yang menggelitiki saya, sampai
muncul pertanyaan adakah pesan yang tersirat di sana? Uraian di atas hanyalah ikhtiar
saya untuk menjawab pertanyaan itu. Jawaban itu menjadi pegangan saya dalam
meniti kehidupan, jawaban itu menjadi jalur pandu perjalanan saya, jawaban itu yang
menahan saya dari tergelincir berulang. Karena jawaban itu saya susun dari
kepingan-kepingan di masa lalu. Di sana ada potongan Kus di waktu SD, ada
potongan Kus di waktu SMP, SMA, bekerja, bermain, nongkrong. Kemudian semakin banyak
saya memahami tentang keterkaitan sesuatu hal dengan sesuatu hal yang lain. Saya
renungkan hal-hal itu, saya kait-kaitan satu dengan yang lain. Saya susun ulang
gampe-gampe itu, kemudian menjadi sesuatu. Jadilah tulisan ini ba ta tsa ba.
Ada yang tidak saya masukkan di sana, yaitu huruf ya.
Karena yang menimbang bahwa ya itu tidak berfungsi seperti wadah, walaupun
gambarnya seperti wadah yang ada pegangannya dengan dua isi di bawahnya. Tetapi
yang menimbang bahwa fungsi ya bukanlan sebagai wadah. Ya dan ta meliki fungsi
lain yaitu sebagai petunjuk gender. Jika ta dengan dua isi di atas untuk menunjukkan
jenis kelamin perempuan maka ya untuk menunjukkan jenis kelamin laki-laki. Dalam
hal ini saya bisa saja salah, tapi sudah saya putuskan bahwa batasannya ya
hanya ba ta tsa dan na.
Jika tulisan ini sampai pada kamu, terima kasih sudah
menerima dan menyimaknya. Selanjutnya kamu bebas terhadapnya.